By: Albert
Beberapa hari yang lalu, saya membaca sebuah informasi tentang sepak bola. "Arsenal pilih bermain baik tapi kalah, atau menang tapi bermain jelek," itulah judul yang menghiasi info tersebut. Sang pelatih, Arsene Wenger, memilih untuk bermain jelek tetapi menang daripada bermain bagus tapi kalah. Saya tidak tahu apa yang motivasi sesungguhnya dari Arsene Wenger. Pasti ada pertimbangan tertentu, di mana dia memilih keputusan tersebut.
Judul tersebut cukup mengganggu pikiran saya pada waktu saya mengikuti kebaktian remaja di gereja. Saya melihat pemimpin pujian yang kurang sungguh-sungguh alias tidak sepenuh hati pada waktu memimpin ibadah. Beberapa kali saya menjumpai hal yang serupa di ibadah remaja yang lain. Saya jadi berpikir apakah lebih baik memiliki banyak pemimpin pujian tapi tidak maksimal melayani ataukah lebih baik memiliki sedikit pemimpin pujian tapi maksimal melayani. Kedua pilihan ini masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari pilihan pertama adalah saya memiliki SDM pemimpin pujian yang banyak. Akan tetapi tidak semua dari mereka bisa menyanyi dengan baik. Ibadah menjadi berantakan. Kelebihan dari pemimpin yang sedikit tapi sungguh melayani adalah ibadah dapat berjalan dengan baik dan suasana beribadah dapat tercipta dengan baik. Apabila memilih pilihan yang kedua ini maka remaja dapat mengeluh karena jenuh.
Manakah yang harus saya pilih di antara kedua pilihan tersebut yang sulit? Paulus memang berkata bahwa setiap orang diberi karunia yang berbeda-beda (1 Kor. 12:7-11; Roma 12:3-8). Kalau diberkan karunia mengajar, hendaklah ia mengajar. Kalau diberi karunia berkata-kata hikmat, baiklah berkata-kata hikmat dan seterusnya. Karunia yang diberikan harus sesuai dengan bidang pelayan. Akan tetapi bagaimana kalau seorang remaja menjadi seorang pemimpin pujian tapi dia tidak dapat menyanyi dan memimpin dengan baik? Apakah kita tidak menjadwalkan pelayanan kepadanya? Ataukah memberikan training dahulu dan tidak melayani dulu ataukah bagaimana? Saya ingin memegang prinsip Firman Tuhan namun apakah baik memberikan garis yang tegas bahwa mereka yang tidak bisa memimpin pujian, ga usah memimpin? Cari saja pelayanan yang lain. Apakah begitu caranya? Akan tetapi apabila saya memaksakan dia tetap memimpin, pelayanan akan menjadi hancur.
"Tuhan, saya jujur bingung bagaimana menerapkan prinsip ini dalam kehidupan bergereja. Tolong saya, Tuhan. Berikan hikmat dari surgawi agar dapat mengerti apa yang harus diputuskan, agar dapat memilih pilihan yang tepat di antara dua pilihan yang sulit. Dalam nama Yesus, saya berdoa. Amin"
Wednesday, 22 July 2009
Sunday, 19 July 2009
Friday, 17 July 2009
Polisi vs Tuhan Allah Yahweh
By: Albert
“Jika tidak menggunakan pakaian sopan, minimal berkerah, sepatu, dilarang masuk tempat ini.” Peringatan ini seringkali tertampang di depan kantor polisi. Jika orang yang bersangkutan tidak menuruti ketentuan tersebut, orang tersebut akan diusir keluar. Alhasil semua orang yang memiliki kepentingan dengan kepolisian, entah mengurus SIM, memperpanjang plat nomor, dan seterusnya, akan menggunakan pakaian sopan beserta dengan sepatu.
Pikiran saya langsung beralih kepada orang-orang Kristen yang beribadah kepada Tuhan. Pagi tadi saya melihat jemaat berdatangan ke gereja dengan menggunakan pakaian yang ala kadarnya. Memakai sandal, menggunakan kaos oblong, sekalipun mungkin itu mahal, akan tetapi mereka menggunakan pakaian itu untuk datang ke gereja. Apakah mereka tidak memiliki pakaian yang lebih sopan ataupun sepatu yang menutup semua kaki? Tentunya tidak. Apa tujuan mereka datang ke gereja? Hanya hadir? Setor muka ke hamba Tuhan supaya tidak dibesuk? Hanya supaya kita dikatakan orang Kristen karena KTP kita Kristen? Ataukah kita mempunyai hati yang tulus untuk menyembah Tuhan? Kalau memang kita datang dengan tulus untuk menyembah Tuhan, apakah pantas bagi kita untuk memakai pakaian yang demikian menghadap Tuhan?
Zaman sekarang ini, manusia jauh menghormati polisi dibanding Tuhan Allah Yahweh. Padahal Tuhan telah memberikan yang terbaik kepada manusia berdosa, yaitu nyawaNya yang tak ternilai harganya. Manusia malah membalasnya dengan perbuatan yang kurang ajar dan menghina Tuhan. Masakan datang kepada Tuhan, paling lama 2 jam saja, tidak bisa menggunakan pakaian yang sopan dan resmi?
Saya sering terganggu dengan pemandangan sandal-sandal yang bertebaran di kaki jemaat dan kaos-kaos yang digunakan pada waktu ibadah. Seharusnya mereka tahu bahwa mereka bukan menghadap manusia biasa, hamba Tuhan ataupun majelis. Tetapi mereka menghadap pada Tuhan Allah Yahweh yang sanggup mengambil nyawa manusia dan Dialah Raja atas segala raja. Mari kita perbaiki tata krama kita dalam berpakaian pada waktu beribadah. Hormati Allah Yahweh sebagai Tuhan bukan sebagai pembantu. Hargailah Dia sebagai Raja di atas segala raja bukan sebagai budak yang menginginkan pemujaan.
“Jika tidak menggunakan pakaian sopan, minimal berkerah, sepatu, dilarang masuk tempat ini.” Peringatan ini seringkali tertampang di depan kantor polisi. Jika orang yang bersangkutan tidak menuruti ketentuan tersebut, orang tersebut akan diusir keluar. Alhasil semua orang yang memiliki kepentingan dengan kepolisian, entah mengurus SIM, memperpanjang plat nomor, dan seterusnya, akan menggunakan pakaian sopan beserta dengan sepatu.
Pikiran saya langsung beralih kepada orang-orang Kristen yang beribadah kepada Tuhan. Pagi tadi saya melihat jemaat berdatangan ke gereja dengan menggunakan pakaian yang ala kadarnya. Memakai sandal, menggunakan kaos oblong, sekalipun mungkin itu mahal, akan tetapi mereka menggunakan pakaian itu untuk datang ke gereja. Apakah mereka tidak memiliki pakaian yang lebih sopan ataupun sepatu yang menutup semua kaki? Tentunya tidak. Apa tujuan mereka datang ke gereja? Hanya hadir? Setor muka ke hamba Tuhan supaya tidak dibesuk? Hanya supaya kita dikatakan orang Kristen karena KTP kita Kristen? Ataukah kita mempunyai hati yang tulus untuk menyembah Tuhan? Kalau memang kita datang dengan tulus untuk menyembah Tuhan, apakah pantas bagi kita untuk memakai pakaian yang demikian menghadap Tuhan?
Zaman sekarang ini, manusia jauh menghormati polisi dibanding Tuhan Allah Yahweh. Padahal Tuhan telah memberikan yang terbaik kepada manusia berdosa, yaitu nyawaNya yang tak ternilai harganya. Manusia malah membalasnya dengan perbuatan yang kurang ajar dan menghina Tuhan. Masakan datang kepada Tuhan, paling lama 2 jam saja, tidak bisa menggunakan pakaian yang sopan dan resmi?
Saya sering terganggu dengan pemandangan sandal-sandal yang bertebaran di kaki jemaat dan kaos-kaos yang digunakan pada waktu ibadah. Seharusnya mereka tahu bahwa mereka bukan menghadap manusia biasa, hamba Tuhan ataupun majelis. Tetapi mereka menghadap pada Tuhan Allah Yahweh yang sanggup mengambil nyawa manusia dan Dialah Raja atas segala raja. Mari kita perbaiki tata krama kita dalam berpakaian pada waktu beribadah. Hormati Allah Yahweh sebagai Tuhan bukan sebagai pembantu. Hargailah Dia sebagai Raja di atas segala raja bukan sebagai budak yang menginginkan pemujaan.
Thursday, 16 July 2009
Kacamata
By: Albert
“Pemandangannya bagus sekali, sejuk dan terang benderang,” ujar Dodi yang berkacamata. “Terang?? Matamu ada yang salah tuh! Masak gelap gini dibilang terang?”, balas Toni. Lalu Dodi menoleh ke Toni, “Ya jelas aja. Kamu pakai kacamata hitam. Aku pakai kacamata yang bening.” Kita tahu bahwa kacamata menentukan benda apa yang kita lihat dan warna apa yang terjadi di dalamnya. Dodi dan Toni melihat satu objek yang sama tapi yang satu melihat gelap, yang lain melihat terang. Kacamata menentukan persepsi kita di dalam melihat sesuatu.
Di dalam dunia yang penuh dengan kesusahan dan penderitaan, beragam orang menggunakan kacamata yang berbeda-beda. Orang yang memakai kacamata pesimis mungkin berkata, “Sudahlah. Hidup ini susah. Ga ada harapan. Untuk apa kita berjuang kalau kesusahan itu tidak henti-hentinya malah menjadi-jadi?” Ada pula orang yang menggunakan kacamata minder, mungkin berkata, “Aku ga berguna. Udah dipecat, ga ada yang mau nerima aku. Aku ga bisa apa-apa kok. Percuma aku kerja, aku bodoh.” Yang lainnya menggunakan kacamata cuek, “Dunia memang begini kok. Ya udah jalani aja. Mau diapain juga ga bisa berubah.” Masih ada banyak kacamata-kacamata lainnya, yang kita gunakan untuk melihat suatu realitas dan kejadian.
Kacamata yang bagaimana yang seharusnya dipakai oleh orang Kristen? Tidak lain dan tidak bukan adalah kacamata iman. Dengan kacamata ini, kita dapat melihat pengharapan di balik penderitaan. Dengan kacamata ini, kita dapat melihat terang di balik kegelapan yang sangat gelap. Karena kacamata ini mengarahkan diri kita kepada Sang Sumber Pengharapan, yaitu Yesus Kristus. Yesus pernah berkata dalam Yohanes, “Berbahagialah orang percaya namun tidak melihat.” Hanya dengan kacamata iman, kita dapat menjalani kehidupan yang susah, penuh penderitaan dan banyak pergumulan dengan penuh sukacita dan penuh pengharapan karena ada Yesus yang menjadi sahabat, gembala dan yang paling penting menjadi Allah yang SENANTIASA menyertai kita.
“Pemandangannya bagus sekali, sejuk dan terang benderang,” ujar Dodi yang berkacamata. “Terang?? Matamu ada yang salah tuh! Masak gelap gini dibilang terang?”, balas Toni. Lalu Dodi menoleh ke Toni, “Ya jelas aja. Kamu pakai kacamata hitam. Aku pakai kacamata yang bening.” Kita tahu bahwa kacamata menentukan benda apa yang kita lihat dan warna apa yang terjadi di dalamnya. Dodi dan Toni melihat satu objek yang sama tapi yang satu melihat gelap, yang lain melihat terang. Kacamata menentukan persepsi kita di dalam melihat sesuatu.
Di dalam dunia yang penuh dengan kesusahan dan penderitaan, beragam orang menggunakan kacamata yang berbeda-beda. Orang yang memakai kacamata pesimis mungkin berkata, “Sudahlah. Hidup ini susah. Ga ada harapan. Untuk apa kita berjuang kalau kesusahan itu tidak henti-hentinya malah menjadi-jadi?” Ada pula orang yang menggunakan kacamata minder, mungkin berkata, “Aku ga berguna. Udah dipecat, ga ada yang mau nerima aku. Aku ga bisa apa-apa kok. Percuma aku kerja, aku bodoh.” Yang lainnya menggunakan kacamata cuek, “Dunia memang begini kok. Ya udah jalani aja. Mau diapain juga ga bisa berubah.” Masih ada banyak kacamata-kacamata lainnya, yang kita gunakan untuk melihat suatu realitas dan kejadian.
Kacamata yang bagaimana yang seharusnya dipakai oleh orang Kristen? Tidak lain dan tidak bukan adalah kacamata iman. Dengan kacamata ini, kita dapat melihat pengharapan di balik penderitaan. Dengan kacamata ini, kita dapat melihat terang di balik kegelapan yang sangat gelap. Karena kacamata ini mengarahkan diri kita kepada Sang Sumber Pengharapan, yaitu Yesus Kristus. Yesus pernah berkata dalam Yohanes, “Berbahagialah orang percaya namun tidak melihat.” Hanya dengan kacamata iman, kita dapat menjalani kehidupan yang susah, penuh penderitaan dan banyak pergumulan dengan penuh sukacita dan penuh pengharapan karena ada Yesus yang menjadi sahabat, gembala dan yang paling penting menjadi Allah yang SENANTIASA menyertai kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)









